Sejarah Perlawanan Penjajahan Belanda di Maluku Tahun 1817

Kedatangan bangsa Eropa di Indonesia ternyata telah melakukan monopoli perdagangan dan perluasan pengaruh politik. Kenyataan pahit itu menimbulkan berbagai perlawanan di daerah-daerah untuk mengusir mereka. Perlawanan atau reaksi itu, antara lain:

Pecahnya perlawanan rakyat dilatarbelakangi beberapa hal, antara lain:

a.   Kedatangan Belanda kembali ke Maluku membuat rakyat Maluku gelisah. Rakyat Maluku membayangkan kejadian pada masa kekuasaan VOC, seperti mengadakan monopoli perdagangan, pelayaran hongi, ekstirpasi, kerja rodi (menebang kayu di hutan, membuat garam, dan membuka perkebunan pala), dan penyerahan wajib (menyerahkan ikan asin, dendeng, dan kopi).
b.   Pemerintah kolonial menurunkan tarif hasil bumi yang wajib diserahkan sementara dalam pembayarannya tertunda-tunda.
c.   Pemerintah kolonial memberlakukan uang kertas, sedangkan rakyat terbiasa dengan uang logam.
d.   Pemerintah kolonial menggerakkan pemuda Maluku agar bersedia menjadi prajurit Belanda.

Perlawanan rakyat Maluku dipimpin oleh Thomas Matulesy (Kapitan Pattimura), Christina Marthatiahahu, Anthonie Reebok, Lucas Latumahina, Thomas Pattiwael, Daniel Sorbach, Raja Tiow, Ulupana, Said Parintah, dan Nicolas Pattinasesany.

Kronologi terjadinya perlawanan rakyat Maluku, adalah sebagai berikut:

a.   Rakyat Maluku di bawah pimpinan oleh Thomas Matulesy Pattimura, mengajukan keluhan kepada Residen van den Berg. Keluhan mimpin perlawan-tersebut mengenai tindakan semena-mena pemerintah kolonial an rakyat Maluku yang menyengsarakan rakyat.
b.   Ternyata keluhan tidak diperhatikan pemerintah Belanda. Akibatnya rakyat Maluku menyerbu dan merebut benteng Duurstede di Saparua (16 Mei 1817). Peristiwa itu menyebabkan Residen van den Berg, dan para perwira lainnya terbunuh.
c.   Setelah peristiwa tersebut, Belanda mengirimkan bala bantuan dari Ambon yang bersenjatakan lengkap di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Ekspedisi berangkat tanggal 17 Mei 1817 dan tiba di Saparua tanggal 20 Mei 1817. Kedatangan bantuan tersebut, menyulut pertempuran dengan pasukan Pattimura. Pasukan Belanda dapat dikalahkan, bahkan Mayor Beetjes mati tertembak.
d.   Kemenangan pasukan Pattimura di Saparua, memberi semangat bagi daerah-daerah Maluku lainnya, seperti Seram, Ambon, Hitu, dan Haruju untuk melawan Belanda.
e.   Pada awal Juli 1817, Belanda mendatangkan pasukan lagi ke Saparua untuk merebut benteng Duurstede, tetapi tidak berhasil. Bahkan Belanda sempat mendatangkan pasukan lagi ke Saparua beberapa kali.

Akhir perlawanan rakyat Maluku sebagai berikut:

a.   Tanggal 15 Oktober 1817, Belanda mulai mengadakan serangan besar-besaran. Belanda mendatangkan bantuan pasukan dari Ambon, dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer. Pasukan Belanda menangkap satu per satu pemimpin perlawanan rakyat Maluku.
b.   Bulan November 1817, Thomas Matulessy tertangkap. Pada tanggal 16 Desember 1817, pukul 07.00 pagi di halaman muka gedung pengadilan di Ambon, Thomas Matulessy dihukum gantung. Thomas Matulessy berkata kepada rakyat “Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda.”
c.   Tertangkapnya Pattimura, berakibat banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpin perlawanan rakyat banyak juga yang tertangkap. Inilah penyebab perjuangan rakyat Maluku melemah dan akhirnya dapat dikuasai Belanda.